Claudio Bravo berhasil menaklukan Portugal.

Manajer Chile, Juan Antonio Pizzi, telah meramalkan “ini akan menjadi semifinal yang indah”. itu terjadi dan teamnya berhasil mematahkan serangan Portugal dan membuat pertahanan yang sangat bagus Sampai 90 menit pertandingan dan babak tambahan 30 menit sebelum Bravo menyelamatkan tiga penalti untuk mengirim juara Amerika Selatan ke final Piala Konfederasi.

Ini adalah pertandingan antara kekuatan sepakbola yang berpengaruh. Sebelum 2015, baik Portugal maupun Chile telah memenangkan kompetisi besar. Dalam 18 bulan berikutnya, Portugal memenangkan Kejuaraan Eropa di Paris dan La Roja dua kali memenangkan Conmebol’s Copa América. Bagi kedua belah pihak, Rusia 2017 merupakan debut pada acara pemanasan Piala Dunia dan setiap manajer telah berbicara tentang Stratergy untuk memenangkan turnamen ini.

Portugal 0-0 Chile (0-3 pen): Piala Konfederasi semifinal – seperti yang terjadi Laporan menit-demi-menit: Claudio Bravo menyelamatkan ketiga tendangan penalti Portugal di adu penalti setelah 120 menit tanpa gol, dengan kemenangan ini Chile akan bermain melawan Jerman atau Meksiko di Final.

Dalam waktu enam menit, terbukti bahwa ini akan menjadi pertemuan yang sangat menegangkan. Sebuah umpan yang menakjubkan dari Alexis Sánchez terarah ke Eduardo Vargas sendirian di kotak penalti, mungkin sedikit offside. namun Rui Patrício berhasil membuat penyelamatan yang luar biasa. Beberapa saat kemudian Cristiano Ronaldo meluncur ke sisi kiri dan menempuh umpan panjang terukur sempurna ke André Silva. Tapi sayangnya dapat di gagalkan oleh Bravo

Sementara manuver penyerangan berlanjut dengan teratur dan kolektif hampir selusin serangan yang di buat oleh ke dua Timnas pada babak pertama.Itu merupakan pertahanan yang luar biasa. Sampai babak ke dua juga terjadi hal yang sama, Arturo Vidal mengalahkan Eliseu Benfica namun mengirim sundulannya ke tribun, sementara Vargas mengarahkan tendangan Salto yang Indah,tapi berakhir di sarung tangan Patrício. Bahkan Ronaldo yang tak tergoyahkan, yang dinobatkan sebagai Man of the match.

Kurangnya gol tidak mengurangi antusiasme penonton sebanyak 40.855, yang memenuhi Stadion Arena Kazan yang dibangun 2013 mendekati kapasitas maksimal. Setelah babak penyisihan grup dimainkan hampir setengah stadion kosong, jumlah besar datang sebagai kelegaan bagi penyelenggara turnamen. Penggemar Chili, yang telah melakukan perjalanan ke Rusia dalam jumlah besar.

Setelah memenangkan Copa América 2015 dan 2016 melalui adu penalti, Cile merasa yakin saat Vidal dengan tenang sebagai penendang pertama. Bravo kemudian menyelamatkan usaha Ricardo Quaresma, João Moutinho dan Nani untuk memastikan timnya berada di final melawan Jerman atau Meksiko.

Kapten Chili, Bravo, yang absen pada paruh kedua kampanye Liga Primer Inggris Manchester City karena cedera betis, sangat tegas setelah penampilan adu penalti yang luar biasa. “Itu bukan hanya keberuntungan,” kata pria berusia 34 tahun itu melalui seorang penerjemah. “Menjelang akhir kami cukup lelah tapi kami masih bergairah – bermain dengan kepala dan hati kami.”

Pizzi juga berbicara tentang faktor kelelahan dan berharap untuk istirahat sejenak sebelum turnamen berakhir di St Petersburg. “Pertama kita perlu istirahat, Manajer Portugal, Fernando Santos,masi saja ramah dalam kekalahan, meski keadaannya tidak menguntungkan. “Kiper mereka sangat fantastis,” katanya. “Saya selalu membela pemain saya, itu adalah tanggung jawab saya, mengingat saya memilih mereka untuk mencetak penalti.” Santos melatih Pizzi pada tahun 2000 dalam tugas bermain terakhir di Porto dan sebelumnya menggambarkan rekannya sebagai “pria sejati”.

Comments

Leave a reply