Impian Mencapai Piala Dunia FIFA 2018 Rusia bagi Nagbe dan Tim Nasional Amerika Serikat

Nama mantan kapten Liberia Joe Nagbe menjadi legenda di dunia sepak bola benua Afrika. Anaknya sekarang sedang berada dalam perjalanan membangun karir yang menjadikan dirinya sebagai salah satu pemain bintang di Major League Soccer (MLS) dan memainkan peran penting dalam membantu tim nasional Amerika Serikat memenangkan Piala CONCACAF keenam mereka bulan lalu. Darlington Nagbe yang meraih kemenangan tersebut berbicara secara eksklusif dengan pialadunia-2018.com tentang upayanya meraih impian agar tim nasional Amerika Serikat dapat bertanding di Piala Dunia FIFA 2018 Rusia.

Darlington yang berusia 27 tahun adalah seorang pemain gelandang seperti ayahnya, tapi berbeda dengan Nagbe Sr, dia telah memulai karir internasionalnya pada usia dimana banyak pemain telah tampil di pertandingan internasional. Ia meninggalkan Liberia bersama dengan ibu dan saudara kandungnya saat masih kecil untuk mengikuti ayahnya yang bermain bagi klub-klub sepakbola di Prancis, Swiss, Yunani, Abu Dhabi, dan Indonesia. Keluarga tersebut baru menetap di Amerika Serikat pada saat Darlington berusia 11 tahun .

“Tumbuh dengan seorang ayah yang merupakan pemain profesional mengakibatkan saya selalu ingin bermain sepakbola,” kata pemain klub sepabola Portland Timbers tersebut, “Dan saya menyadari bahwa saya dapat melakukannya ketika berusia sekitar 18 tahun. Meskipun saya kuliah di universitas, mimpiku adalah mengikuti jejak ayah. “

Darlington melakukan langkah pertamanya menuju karir profesional saat menandatangani kontrak dengan klub sepakbola Cleveland Internationals dimana ia masih berstatus sebagai seorang mahasiswa di Akron University. Ia membantu klub sepakbola tersebut bermain di liga USL Premier Development. Ia direkrut oleh klub sepakbola Portland Timbers pada tahun 2011 dan bergabung dengan klub Major League Soccer (MLS) tersebut hingga sekarang.

Ia mendapatkan kewarganegaraan Amerika Serikat sekitar empat tahun kemudian. Kurang lebih seminggu setelah memperoleh kewarganegaraan, dirinya dipanggil oleh pelatih tim nasional Amerika Serikat Jurgen Klinsmann untuk ikut dalam dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2018 melawan tim nasional negara kepulauan Saint Vincent dan Grenadine. ” Bermain di pertandingan pertama terasa sangat mengesankan,” kenang Darlington. “Saya ingat pertandingan tersebut; kami sudah unggul dari awal jadi itu adalah pertandingan yang bagus untuk dikenang. Saya ingat merasa gembira dapat bermain di lapangan, memikirkan semua yang telah diberikan oleh negara Amerika Serikat kepada saya, dan saya sekarang memiliki kesempatan untuk mewakili mereka.”

Memenangkan Piala Emas CONCACAF

Sejak saat itu karirnya di panggung internasional terus melejit naik bersama dengan karirnya di klub sepakbola Portland Timbers. Ia berperan penting memenangkan piala Major League Soccer (MLS) bagi klubnya pada tahun 2015 dan membantu klubnya masuk ke jajaran Major League Soccer (MLS) All Star setahun kemudian. Darlington Nagbe merasa bangga mengenakan kaos timnya saat merayakan kemenangan yang mereka peroleh. Nagbe ikut direkrut ke dalam tim nasional Amerika Serikat dalam pertandingan penyisihan memperoleh piala emas CONCACAF bulan lalu. Ia bermain di tiga pertandingan dan membantu tim tersebut meraih gelar keenam berkat kemenangan 2-1 melawan Jamaika.

“Rasanya sungguh menakjubkan dapat memenangkan piala emas CONCACAF. Itu adalah medali pertamaku dengan tim nasional Amerika Serikat dan rasanya sangat hebat menjadi bagian dari tim ini. Kami kalah di semifinal melawan Jamaika pada tahun 2015. Itu sebelum saya bergabung dengan tim nasional, jadi sangat fantastis dapat mengalahkan mereka kali ini dan mudah-mudahan kami dapat mempertahankan momentum ini ke kualifikasi Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia. “

Darlington yang sudah menikah dan memiliki dua anak amat ingin mewujudkan impian lolos kualifikasi Piala Dunia FIFA 2018 dan bermain di Rusia tahun depan. “Ayah saya menjadi kapten tim nasional Liberia yang memiliki julukan “Lone Stars”. Mereka hampir melewati kualifikasi Piala Dunia FIFA 2002. Saya ingat bahwa mereka akan memenuhi syarat jika mereka dapat mengalahkan Ghana di kandangnya, tapi mereka kalah,” kenang Darlington yang saat itu baru berusia sepuluh tahun. “Saya hadir di pertandingan tersebut. Saya masih sangat muda, jadi saya tidak ingat banyak, tapi saya tahu mereka hampir lolos kualifikasi Piala Dunia FIFA 2002. Saya tahu ayahku sekarang tentu berharap diriku bisa lolos ke putaran final Piala Dunia.”

Amerika Serikat berada di urutan ketiga dalam grup kualifikasi akhir dengan empat pertandingan tersisa dan harus bermain dengan tangguh untuk meraih tiket menuju Piala Dunia FIFA 2018. “Masalah tentang grup CONCACAF adalah permainannya sangat sulit, tidak peduli siapa pun lawannya. Kondisi bermain dengan bertandang ke negara lawan sangat sulit. “

Hasil imbang 1-1 di Meksiko pada bulan Juni lalu telah menyebabkan tim nasional Amerika Serikat kembali memperoleh harapan setelah permulaan yang goyah. “Itu adalah pertandingan dimana kami tidak boleh kalah,” Darlington mengakui. “Kami melaksanakan rencana permainan kami dengan sangat baik. Kami memimpin pertandingan dan saya pikir kami bisa lolos dengan kemenangan, namun pada akhirnya kami senang bisa lolos dengan satu poin. Kami dalam kondisi bagus sekarang dan sedang bersiap untuk pertandingan yang tersisa. “

Bermain di kualifikasi Piala Dunia FIFA 2018 akan menjadi tonggak sejarah yang baru dalam perjalanan karir Darlington. “Ini sangat mirip dengan mimpi. Saya sangat realistis dan saya tidak pernah berharap semua ini bisa terjadi sampai akhirnya benar-benar terjadi. Saya amat menghargai ketika tim kami mampu mewujudkannya dan saya amat berterimakasih pada tim. Saya melihat kembali perjalanan yang telah saya lalui untuk mencapai posisi saya sekarang dan saya sangat bersyukur atas semuanya. “

Comments

Leave a reply